Remove Text Formatting
Loading...

Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 16

Thread: Hikmah Sholat 2

  1. #1
    Join Date
    Oct 2007
    Posts
    23,406
    Post Thanks / Like

    Default Hikmah Sholat 2

    MENUNAIKAN SHALAT JAMA'AH DI LUAR MASJID


    Para ulama berselisih pendapat dalam masalah hukum melaksanakan shalat jama'ah di luar masjid, dalam hal ini ada tiga pendapat.

    Pendapat Pertama
    Boleh mengerjakan shalat jama'ah di luar masjid.

    Ini pendapat Malik, Syafi'i dan riwayat Ahmad juga pendapat Hanafiyah. Ibnu Al-Qasim berkata : "Aku bertanya kepada Malik tentang laki-laki yang melakukan shalat maktubah bersama istrinya di rumah ? Beliau berkata : Hal itu tidak apa-apa". Dalam Al-Mudawannah al-Kubra 1/86 Imam Syafi'i berkata : "Setiap shalat jama'ah yang dikerjakan oleh seorang laki-laki di rumahnya, di masjid kecil atau besar, jumlah jama'ahnya sedikit atau banyak, aku memilih (bahwa shalat yang dikerjakan) di masjid itu lebih agung dan yang lebih banyak jama'ahnya lebih aku sukai" [Al-Umm 1/136]. Ar-Rafi dari Asy-Syafi'iyah berkata : Shalat jama'ah yang (dikerjakan oleh seorang lelaki) di dalam rumah itu lebih afdhal dari shalat sendirian (yang dikerjakan) di dalam masjid".

    Di dalam al-Mughni Ibnu Qudamah berkata : "Boleh mengerjakan shalat berjama'ah di dalam rumah dan boleh juga dikerjakan di tanah lapang" [Juz 3/8]

    Dalil-dalil mereka.

    [1] Hadits Jabir yang marfu : "Artinya : Aku diberi lima perkara ...' kemudian dsebutkan di antaranya bumi dijadikan masjid dan alat bersuci bagiku, siapa saja umatku yang mendapati waktu shalat maka shalatlah" [Al-Lu'lu wal Marjan disepakati oleh Bukhari dan Muslim 1/104 no 299]

    [2] Anas berkata : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik akhlaknya, bila beliau mengerjakan shalat di rumah kami, beliau memerintahkan kami untuk membentangkan permadani sebagai alas lalu menyapu dan menyiram lantainya kemudian beliau menjadi imam dan kami berdiri di belakangnya lalu beliau shalat bersama kami" [As-Sunan al-Kubra an-Nasa'I 3/66]

    [3] Dari 'Aisyah Radhiyallahu 'anha berkata : "Rasulullah Shalat di rumahnya, beliau dalam keadaan kesulitan, maka beliau shalat dengan duduk, para shahabat shalat dibelakangnya dengan berdiri, maka beliau memberi isyarat kepada mereka (untuk shalat) dengan duduk" [Shahih Bukhari 1/169 bab 51 kitab al-Adzan]

    Mereka juga menggunakan dalil-dalil lain yang tidak cukup bila harus dipaparkan semua di sini.

  2. #2
    Join Date
    Oct 2007
    Posts
    23,406
    Post Thanks / Like

    Default

    Pendapat Kedua.
    Tidak boleh melaksanakan shalat berjama'ah kecuali di masjid.

    Pendapat ini merupakan riwayat dari Imam Ahmad, sementara Ibnu Qayyim al-Jauziyah merajihkan pendapat tersebut yang dijelaskan dalam "Kitab ash-Shalat".

    Siapa saja yang mau merenungkan as-Sunnah dengan sebenarnya, ia akan mendapatkan kejelasan bahwa mengerjakan shalat berjama'ah di masjid itu adalah kewajiban yang telah ditetapkan, kecuali bagi orang yang berhalangan sehingga ia boleh meninggalkan shalat Jum'ah dan jama'ah. Meninggalkan masjid (shalat berjama'ah) tanpa udzur itu seperti meninggalkan asal perintah berjama'ah dengan tanpa udzur, hal ini telah disepakati oleh berbagai hadits dan atsar [Kitab Shalat Ibnu Qayyim al-Jauziyah 461]. Beliau berkata : " Demi Allah yang kita tunduk kepada-Nya, sesungguhnya tidak diperbolehkan bagi seorangpun untuk meninggalkan shalat berjama'ah di masjid kecuali orang yang memiliki udzur, wallahu 'alam bish shawab" [Kitab Shalat Ibnu Qayyim al-Jauziyah 461]

    Bahkan sebagian ulama menganggap batal shalat jama'ah seseorang yang dikerjakan di rumahnya. Abul Barakat seorang pengikut Hambali berkata :

    "Jika seseorang meninggalkan berjama'ah tanpa udzur lalu mengerjakannya di rumah, maka jama'ahmya tidak sah, karena ia telah mengerjakan larangan dengan memilih mengerjakan shalat berjama'ah di masjid" [Al-Inshaf al-Mawardi 2/123-124]

    Dalam Fathul Qadir Ibnu al-Hamam al-Hanafi 1/345 : disebutkan Al-Halwani pernah ditanya tentang seseorang yang kadang kala mengerjakan jama'ah dengan keluarganya, apakah ia mendapatkan balasan berjama'ah ? Ia berkata : Tidak, itu menjadi perbuatan bid'ah dan dibenci bila dikerjakan tanpa ada uduzur.

    Dalil-Dalil Mereka adalah : Pendapat ini berlandaskan pada hadits yang menunjukkan wajibnya berjama'ah dan (kewajiban) ini adalah fardhu 'ain. Pengikut Syafi'i berselisih pendapat dalam masalah melaksanakan shalat jama'ah di luar masjid, apakah sampai gugur menjadi fardhu kifayah atau tidak ? Mereka berselisih dengan dua pendapat
    .
    Pertama : Tidak cukup melaksanakan jama'ah shalat fardu di luar masjid.

    Kedua : Cukup bila telah masyhur, seperti hendak melaksanakan shalat jama'ah di pasar.

    Ibnu Daqiq al'Ied berkata : "Bagiku pendapat yang pertama itu benar, karena asal disyariatkannya shalat adalah dikerjakan dengan berjama'ah di masjid, ini adalah sebuah sifat yang harus diperhatikan, tak ada yang membatalkannya" [Al-'Uddah 'ala Ihkami al-Ahkam, 2.214]

  3. #3
    Join Date
    Oct 2007
    Posts
    23,406
    Post Thanks / Like

    Default

    Pendapat Ketiga.
    Hendaknya dibedakan antara orang yang mendengarkan seruan adzan yang tidak sah shalatnya kecuali dikerjakan di masjid dengan orang yang tidak mendengar adzan, di mana tidak sah shalatnya kecuali mengerjakannya dengan berjama'ah.

    Adapun pendapat Ibnu Hazm : Beliau berkata di dalam al-Muhalla : "....Shalat fardhu yang dikerjakan oleh seseorang tidak akan mendapatkan balasan tatkala ia mendengarkan adzan kecuali bila ia kerjakan di masjid bersama imam, jika ia sengaja meninggalkannya tanpa ada udzur, maka shalatnya batal. Jika ia tidak mendengar adzan ia harus mengerjakan shalat fardhu dengan berjama'ah bersama seorang atau lebih, jika ia tidak mengerjakan (dengan berjama'ah) maka tiada shalat baginya kecuali jika ia tidak mendapatkan seorangpun yang dapat diajak shalat bersamanya, ketika itu ia diberi balasan, demikian pula bagi orang yang memiliki udzur ia akan diberi balasan (terhadap shalatnya) yang dikerjakan tidak dengan berjama'ah" [Al-Muhalla Syarhu Al-Majalla 4/265]

    Ibnu Taimiyah berkata di dalam al-Fatawa al-Mishriyah : "Bila ada seseorang mengerjakan shalat di rumahnya secara berjama'ah apakah (kewajibannya menghadiri masjid telah gugur ? Di dalamnya masih ada perdebatan, seharusnya ia tidak meninggalkan kewajiban menghadiri (jama'ah) di masjid kecuali bila ada udzur" [Mukhtashar al-Fatawa al-Mishriyah, Ibnu Taimiyah 52]

    Alangkah baiknya jika pembicaraan dalam masalah ini kita tutup dengan perkataan Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab As-Shalah, "Siapa saja yang merenungkan as-Sunnah dengan sebenarnya ia akan mendapat kejelasan bahwa mengerjakan shalat berjama'ah di masjid adalah kewajiban yang telah ditetapkan, kecuali bagi orang yang berhalangan yang membolehkan baginya meninggalkan shalat jum'at dan jama'ah. Meninggalkan masjid tanpa udzur itu ibarat meninggalkan asal perintah berjama'ah dengan tanpa udzur, hal ini telah disepakati oleh berbagai hadits dan atsar ... tatkala Rasulullah telah meninggal dan berita itu sampai pada penduduk Makkah, Suhail bin Amru berkhutbah dihadapan mereka -adapun Utbah bin Usaid telah mengatakan kepada mereka (penduduk Makkah), kemudian ia bersembunyi dari mereka karena takut, maka Suhail membawanya keluar dan meneguhkan penduduk Makkah pada Islam, setelah itu Utbah bin Usaid berkhutbah di hadapan mereka ; Demi Allah wahai penduduk Makkah, tidaklah sampai kepadaku bahwa salah seorang di antara kamu meninggalkan shalat berjama'ah di masjid kecuali pasti akan aku akan memotong leher mereka, para shahabat Rasulullah menemuinya dan sikap itu membuat ia bertambah mulia di hadapan mereka, demi Allah yang kepada-Nya kita tunduk sesungguhnya tidak diperbolehkan bagi seorangpun meninggalkan shalat berjama'ah di masjid melainkan yang memiliki udzur" [Kitab As-Shalah 461]

    TANBIH.
    Ketika telah ditetapkan bahwa tidak boleh meninggalkan shalat jama'ah di masjid melainkan ada udzur, maka ada tiga perkara yang harus diperhatikan :

    [1] Bagi seseorang yang ketinggalan shalat jama'ah di masjid dan tidak mendapatkan orang lain untuk shalat jama'ah bersamanya lebih baik baginya untuk pulang ke rumah dan shalat jama'ah bersama keluarganya.

    [2] Apabila dalam kondisi sebagai musafir atau bertamasya dan ia bersama keluarganya, maka ia harus shalat berjama'ah dengan keluarganya.

    [3] Apabila ketinggalan shalat jama'ah di masjid yang dekat darinya maka ia harus berjama'ah di masjid lain sekiranya tidak menyusahkannya dan ia mampu untuk mendapatkannya.


    [Disalin dari kitab Shalat Al-Jama'ah Hukmuha Wa Ahkamuha Wat Tanbih 'Ala Ma Yaqa'u Fiiha Min Bid'ain Wa Akhthain edisi Indoensia Shalat Berjama'ah, Panduan Hukum, Adab, Hikmah. hal 65-70, Pustaka Arafah]

  4. #4
    Join Date
    Oct 2007
    Posts
    23,406
    Post Thanks / Like

    Default

    SESUATU YANG MEMBUAT SHALAT DIMAKRUHKAN

    Al-Makruh menurut para ahli ushul berarti sesuatu yang mendatangkan pahala jika ditinggalkan dan tidak mendatangkan hukuman jika dikerjakan. Al-Makruhat yang dimaksudkan di sini ialah hal-hal yang mengurangi kesempurnaan shalat namun tidak menggugurkannya. Bilangannya banyak, namun pengarang menyebutkannya sebagian di antaranya yang terkandung di dalam dua hadits ini.

    HADITS KELIMA PULUH
    "Artinya : Dari Aisyah Radhiyallahu 'anha, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda : 'Jika shalat hendak didirikan, sedang makan malam sudah dihidangkan, maka mulailah dengan makan malam"

    Diriwayatkan dari Ibnu Umar yang semisal dengan hadits ini.

    MAKNA GLOBAL.
    Dalam shalat dituntut kekhusyu'an dan ketundukan serta kehadiran hati, karena yang demikian itu merupakan roh shalat. Kesempurnaan dan kekurangan shalat tergantung pada kehadiran makna ini.

    Jika shalat hendak didirikan, sementara makanan dan minuman sudah dihidangkan, maka yang lebih dahulu dilakukan ialan makan dan minum, agar konsentrasi orang yang shalat tidak terpecah dan pikirannya tidak tertuju ke makanan dan minuman, agar hatinya teralihkan dari kekhusyu'an, yang menjadi inti shalat. Dengan catatan, jika waktunya tidak mepet dan sempit. Jika waktunya sempit, yang lebih didahulukan ialah shalat daripada mengerjakan yang lainnya, karena sesuatu yang disunatkan tidak dapat mengalahkan sesuatu yang wajib.

    KESIMPULAN HADITS.
    [1] Jika makanan dan minuman sudah dihidangkan pada waktu shalat, maka makan dan minum harus dilakukan lebih dahulu selagi waktunya tidak sempit, apa pun keadaannya.
    [2] Menurut zhahir hadits ini, tidak ada bedanya apakah saat itu membutuhkan makanan atau tidak membutuhkannya. Tapi para ulama membatasinya pada kebutuhan terhadap makanan, dengan menyimpulkan alasan yang dapat mereka pahami dari maksud penyampai syari'at.
    [3] Kehadiran makanan bagi orang yang membutuhkannya menjadi alasan untuk meninggalkan shalat jama'ah, asalkan waktu makan dan minum itu tidak terus menerus pada waktu shalat dan menjadi kebiasaan secara kontinyu.
    [4] Kekhusyu'an dan meninggalkan semua kesibukan dituntut dalam shalat, agar hati tercurah pada munajat.

  5. #5
    Join Date
    Oct 2007
    Posts
    23,406
    Post Thanks / Like

    Default

    HADITS KELIMA PULUH SATU
    "Artinya : Bagi riwayat Muslim dari Aisyah Rdhiyallahu 'anha, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Tidak ada shalat saat kehadiran makanan, dan tidak pula menahan dia hadats".

    MAKNA GLOBAL.
    Dalam hadits sebelumnya sudah disampaikan keinginan penyampai syari'at yang kuat tentang kehadiran hati dalam shalat dihadapan Rabbnya. Yang demikian itu tidak akan terjadi kecuali dengan memotong segala hal yang menyibukkannya, yang dapat menghilangkan thuma'ninah dan kekhusyu'an.

    Karena itulah pembawa syari'at melarang shalat ketika makanan sudah dihidangkan, yang membuat hati orang yang shalat tertuju ke makanan itu. Disamping itu beliau juga melarang shalat sambil menahan dua hadats, buang air kecil dan air besar, karena shalat orang yang menahan buang air kecil dan air besar tidak akan sempurna, karena hati menjadi masygul menahan kotoran.

    PERBEDAAN PENDAPAT DI KALANGAN ULAMA.
    Golongan Zhahiriyah dan Syaikhhul Islam Ibnu Taimiyah menyimpulkan berdasarkan zhahir hadits ini. Mereka menganggap shalat tidak sah jika makanan sudah terhidang atau ketika menahan buang air besar maupun kecil.

    Mereka menganggap shalat dalam keadaan seperti itu adalah batil. Hanya saja Ibnu Taimiyah membatasi ketidakabsahan ini ketika membutuhkan makanan. Sementara golonan Zhahiriyah tidak benar, karena mereka menganggapnya tidak sah secara mutlak.

    KESIMPULAN HADITS.
    [1] Makruh shalat ketika makanan sudah dihidangkan, terutama bagi orang yang membutuhkannya, begitu pula ketika menahan buang air besar atau air kecil, selagi waktunya tidak sempit.

    [2] Kehadiran hati dan khusyu' dituntut dalam shalat.
    [3] Orang yang sedang shalat harus menjauhkan segala hal yang menyibukkan dalam shalat.
    [4] Kebutuhan terhadap makan, minum, buang air besar dab air kecil merupakan alasan untuk mengakhirkan Jum'at dan jama'ah, dengan syarat, tidak menjadikan waktu-waktu shalat bertetapan dengan semua itu.
    [5] Ash-Shan'any berkata : 'Harus diingat bahwa hal ini bukan termasuk bab mendahulukan hak hamba atas hak Allah, tapi itu termasuk masalah menjaga hak Pencipta, agar tidak masuk dalam ibadah kepada-Nya dengan hati yang tidak diterima munajatnya'.
    [6] Sebagian ulama menafsiri khusyu' sebagai himpunan rasa takut dan
    ketenangan. Ini merupakan makna yang berlaku di dalam jiwa, tampak dalam ketenangan anggota badan yang sesuai dengan tujuan ibadah.

    FAIDAH.
    Menurut para ulama, shalat adalah munajat dengan Allah. Maka bagaimana mungkin ia dilakukan dalam keadaan lalai seperti ini ? Para ulama sepakat, bahwa hamba tidak mendapatkan pahala dari shalatnya kecuali apa yang dia pikirkan dan yang dia hayati dari shalatnya itu, yang didasarkan kepada firman Allah.

    "Artinya : Dan, dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku" [Thaha : 14]

    "Artinya : Dan, janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai" [Al-A'raf : 205]

    Yang juga didasarkan kepada riwayat Abu Daud, An-Nasa'i dan Ibnu Hibban secara marfu'. 'Sesungguhnya hamba benar-benar mendirikan shalat, tidak ditetapkan pahala baginya kecuali sepersepuluhnya, tidak pula seperenamnya'.

    Shalat diwajibkan untuk menegakkan dzikir kepada Allah. Jika di dalam hati orang yang shalat tidak terdapat pengagungan dan ketakutan kepada-Nya, maka bobot shalat itupun menjadi berkurang. Kehadiran hati artinya mengosongkannya dari segala hal yang menyibukkannya. Jadi harus adapenggadengan ilmu dan amal. Kelalaian hati dalam shalat untuk bermunajat hanya disebabkan oleh bisikan cinta terhadap dunia.

  6. #6
    Join Date
    Oct 2007
    Posts
    23,406
    Post Thanks / Like

    Default

    SHALAT DALAM KENDARAAN

    Pertanyaan.
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Kapan wajib shalat di pesawat ? Bagaimana tata cara shalat fardhu padanya ? Dan bagaimana pula cara shalat sunnah padanya ?

    Jawaban.
    Shalat di pesawat wajib dilakukan bila telah masuk waktunya. Tetapi jika kesulitan melakukan shalat di pesawat sebagaimana shalat di bumi, maka tidak usah melakukan shalat fardhu kecuali jika pesawat telah mendarat, dan waktu shalat masih mencukupi. Atau jika waktu shalat berikutnya masih bisa ditemui untuk melakukan jamak.

    Misalnya, jika anda tinggal landas dari Jeddah sebelum matahari terbenam, lalu saat diudara matahari telah terbenam maka anda tidak usah shalatmaghrib sampai pesawat mendarat di bandara, dan anda turun padanya. Jika anda khawatir waktunya habis maka niatkanlah untuk melakukan jamak ta'khir lalu melakukan jamak setelah turun. Jika anda khawatir waktu isya' akan habis sebelum mendarat, sedang waktu isya' yakni sampai pertengahan malam maka hendaklah ia shalat maghrib dan isya' di pesawat sebelum waktunya habis.

    Tata cara shalat di pesawat yaitu hendaknya orang itu berdiri menghadap kiblat lalu bertakbir, membaca fatihah dan sebelumnya membaca do'a iftitah, sedang sesudahnya membaca surat Al-Qur'an, lalu ruku', lalu bangkit dari ruku', lalu bersujud. Bila tidak bisa bersujud cukup dengan duduk seraya menundukkan kepala sebagai pengganti sujud. Begitulah yang harus ia perbuat sampai akhir dan kesemuanya menghadap kiblat.

    Untuk shalat sunnah dalam pesawat maka ia shalat dengan duduk di atas kursinya dan menganggukkan kepala dalam ruku' dan sujud dengan angggukan sujudnya lebih rendah. Allah-lah yang memberi petunjuk.

  7. #7
    Join Date
    Oct 2007
    Posts
    23,406
    Post Thanks / Like

    Default

    SHALAT DAN BERSUCI BAGI YANG SAKIT

    Pertanyaan :
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Bagaimana cara orang sakit shalat dan bersuci ..?" [Abdullah Imran, Riyadh]

    Jawaban :
    Bagi yang sedang sakit terdapat beberapa hukum yang khusus dan mesti di pelihara.

    Sesungguhnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam di utus Allah dengan membawa agama yang hanif (lurus) berdasarkan kemudahan dan keringanan.

    Allah berfirman.
    "Artinya : Dan dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan" [Al-Hajj : 78]

    Ayat lain :
    "Artinya : Allah menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu" [Al-Baqarah : 187]

    Ayat lain :
    "Artinya : Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu" [At Taghaabun : 16]

    Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Artinya : Sesungguhnya agama itu mudah".

    [1] Yang sakit wajib bersuci dengan air, wudlu dari hadas kecil dan mandi dari hadas besar.
    [2] Jika tak mampu menggunakan air karena takut bertambah sakit atau terlambat sembuh, hendaklah ia bertayamum.
    [3] Tayamum caranya dengan menyapukan tanah suci atau dinding tembok yang berdebu dengan kedua tangan ke bagian muka dan kedua telapak tangannya. Jika tak mampu bertayamum sendiri, maka bisa dibantu orang lain.
    [4] Boleh bertayamum dengan dinding atau yang lainnya bila berdebu dan suci.
    [5] Jika tak ada dinding yang berdebu, maka tidak dilarang menaruhkan tanah ke sapu tangan atau wadah penyaring lalu tayamum.
    [6] Jika bertayamum untuk satu shalat dan masih tetap suci ketika shalat lain tiba, maka tayamum tak perlu diulangi.
    [7] Yang sakit wajib mensucikan badannya dari berbagai najis. Jika tak mampu shalat sebagaimana cara biasa, maka shalatlah sesuai dengan keadaannya dan shalatnya sah.
    [8] Yang sakit wajib membersihkan atau mencopot pakaiannya dari najis serta berpakaian suci. Jika tak mampu, shalatlah seadanya.
    [9] Yang sakit wajib shalat di atas tempat yang suci termasuk kain sparai tidurnya. Jika tak mampu, shalatlah apa adanya.
    [10] Yang sakit wajib shalat fardhu walau sambil bersandar kepada dinding, tiang atau tongkat.
    [11] Jika ia tak mampu shalat sambil berdiri, lakukanlah sambil duduk ; sebaiknya duduk sila ketika saat berdiri dan ruku' serta duduk iftirasy pada saat sujud.
    [12] Jika tak mampu sambil duduk, shalatlah sambil berbaring dengan menghadap kiblat dan samping kanan lebih baik dari yang kiri. Bila tak mampu menghadap kiblat, menghadaplah kemana saja.
    [13] Jika tak mampu sambil berbaring, lakukanlah dengan terlentang ; kaki mengarah ke kiblat dengan sedikit kepala ke atas agar menghadap kiblat. Jika tak mampu kakinya ke arah kiblat, lakukanlah apa adanya.
    [14] Yang sakit wajib sujud dan ruku. Jika tak kuasa, berisyarahlah dengan kepalanya ; anggukkan kepala ketika sujud lebih rendah dari pada ketika ruku. Jika ia hanya mampu ruku' saja, dan sujud tak kuasa, maka ruku'lah sebagaimana biasa lalu isyarah ketika sujud dan begitu pula bila sebaliknya.
    [15] Jika ia tak mampu isyarah dengan kepalanya ketika ruku' atau sujud, maka isyarahlah dengan matanya dengan sedikit pejam ketika ruku dan pejam seluruhnya ketika sujud. Dan tak dibenarkan isyarah dengan jemari tangan, sebagaimana dilakukan oleh sebagian yang sakit.
    [16] Jika tak mampu isyarah dengan kedipan matanya, maka shalatlah dengan hatinya ; berniat ketika ruku', sujud, berdiri dan duduk.
    [17] Yang sakit wajib shalat tepat pada waktunya sesuai dengan kemampuannya sebagaimana telah diterangkan.
    [18] Jika sulit baginya shalat sesuai waktunya, maka ia boleh melakukan jama' antara Zuhur dengan Ashar dan antara Maghrib dengan Isya, baik jama' taqdim atau takhir.
    [19] Sedangkan shalat Fajar (Subuh) tak boleh dijama', baik dengan shalat sebelumnya atau sesudahnya, sebab shalat Fajar mempunyai waktu tersendiri.

  8. #8
    Join Date
    Oct 2007
    Posts
    23,406
    Post Thanks / Like

    Default

    SHALAT DI DALAM PESAWAT

    Pertanyaan.
    Jika saya sedang bepergian dengan mengendarai pesawat, lalu tiba waktu shalat, bolehkah saya shalat di dalam pesawat atau tidak ?

    Jawaban.
    Alhamduillah. Jika waktu shalat sementara pesawat sedang terbang pada rutenya dan dikhawatirkan habisnya waktu shalat tersebut sebelum landing di salah satu airport, maka para ahlul ilmi telah sepakat akan wajibnya pelaksanaan shalat sesuai kemampuan dalam ruku', sujud dan menghadap kiblat, berdasarkan firman Allah Ta'ala.

    "Artinya : Maka bertaqwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu" [At-Taghabun : 16]

    Dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam

    "Artinya : Jika aku perintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah apa yang kalian sanggupi" [Hadits Riwayat Muslim, kitab Al-Hajj 1337]

    Adapun jika ia mengetahui bahwa ia akan tiba sebelum habisnya waktu shalat sekitar beberapa saat yang cukup untuk melaksanakannya, atau shalatnya termasuk yang bisa dijama' dengan shalat lainnya, seperti shalat Zhuhur dengan Ashar atau Maghrib dengan Isya, atau ia tahu bahwa pesawat akan landing sebelum habisnya waktu shalat yang kedua, yaitu sekitar beberapa saat yang cukup untuk melaksanakan keduanya, maka para ahlul ilmi membolehkan pelaksanaannya di dalam pesawat karena wajibnya perintah pelaksanaan ketika masuknya waktu shalat.

    Sebagian Ahlul ilmi dari golongan Maliki berpendapat tidak sah melaksanakannya di dalam pesawat, karena syarat sahnya shalat adalah diatas tanah atau di atas sesuatu yang berhubungan langsung dengan tanah, seperti kendaraan atau kapal, hal ini berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam.

    "Artinya : Tanah ini telah dijadikan tempat sujud bagiku dan dijadikan alat bersuci" [Al-Bukhari, kitab Tayamum 335, Muslim kitab Al-Masajid 521]

  9. #9
    Join Date
    Oct 2007
    Posts
    23,406
    Post Thanks / Like

    Default

    SHALAT JAMA' TAQDIM

    "Artinya : Adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam peperangan Tabuk, apabila hendak berangkat sebelum tergelincir matahari, maka beliau mengakhirkan Dzuhur hingga beliau mengumpulkannya dengan Ashar, lalu beliau melakukan dua shalat itu sekalian. Dan apabila beliau hendak berangkat setelah tergelincir matahari, maka beliau menyegerakan Ashar bersama Dzuhur dan melakukan shalat Dzuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau berjalan.

    Dan apabila beliau hendak berangkat sebelum Maghrib maka beliau mengakhirkan Maghrib sehingga mengerjakan bersama Isya', dan apabila beliau berangkat setelah Maghrib maka beliau menyegerakan Isya' dan melakukan shalat Isya' bersama Maghrib".

    Hadits ini dikeluarkan oleh Abu Dawud (1220), At-Tirmidzi (2/438) Ad-Daruquthni (151), Al-Baihaqi (3/165) dan Ahmad (5/241-242), mereka semua memperolehnya dari jalur Qutaibah bin Sa'id : " Telah bercerita kepadaku Al-Laits bin Sa'ad dari Yazid bin Abi Habib dari Abi Thufail Amir bin Watsilah dari Mu'adz bin Jabal, secara marfu. Dalam hal ini Abu Dawud berkomentar :"Tidak ada yang meriwayatkan hadits ini kecuali Qutaibah saja".

    Saya menilai : "Dia adalah tsiqah dan tepat. Maka tidak mengapa meskipun dia sendirian dalam meriwayatkan hadits ini dari Al-Laits selain darinya".

    Di tempat lain At-Tirmidzi juga berkata : "Hadits ini hasan shahih".

    Saya berpendapat : Inilah yang benar, semua perawinya tsiqah. Yakni para perawi Asy-Syaikhain. Juga telah dinilai shahih oleh Ibnul Qayyim dan lainnya. Namun Al-Hakim dan lainnya menganggapnya ada 'illat yang tidak baik, seperti yang telah saya jelaskan dalam Irwa 'Al-Ghalil (571). Di sana saya menyebutkan mutabi' (hadits yang mengikuti) kepada Qutaibah dan beberapa syahid (hadits pendukung) yang memastikan keshahihannya.

    Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik (I/143/2) dari jalur lain yang berasal dari Abi Thufail dengan redaksi.

    "Sesungguhnya mereka keluar bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada tahun Tabuk. Maka adalah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengumpulkan antara Dzuhur dan Ashar serta Magrib dan Isya. Abu Thufail berkata : 'Kemudian beliau mengakhirkan (jama' takhir) shalat pada suatu hari. Lalu beliau keluar dan shalat Dzuhur dan Ashar sekalian. Kemudian beliau masuk (datang). Kemudian keluar dan shalat Maghrib serta Isya sekalian".

    Dan dari jalur Malik telah dikeluarkan oleh Imam Muslim (7/60) dan Abu Dawud (1206), An-Nasa'i (juz I, hal 98), Ad-Darimi (juz I, hal 356), Ath-Thahawi (I/95), Al-Baihaqi (3/162), Ahmad (5/237) dan dalam riwayat Muslim (2/162) dan lainnya dari jalur lain :

    "Kemudian saya berkata : 'Apa maksudnya demikian ?" Dia berkata : Maksudnya agar tidak memberatkan umatnya".

    Kandungan Hukumnya

    Dalam hadits ini terdapat beberapa masalah.

    [1]. Boleh mengumpulkan dua shalat pada waktu bepergian walaupun pada tempat selain Arafah dan Muzdalifah ; demikian pendapat jumhurul ulama. Berbeda dengan mazdhab Hanafiyah. Mereka menakwilkannya dengan 'jama' shuwari' yakni mengakhirkan Dzhuhur sampai mendekati waktu Ashar demikian pula Maghrib dan Isya'. pendapat ini telah dibantah oleh jumhurul ulama dari berbagai segi.

    Pertama : Pendapat ini jelas menyalahi pengertian jama' secara dhahir.

    Kedua : Tujuan disyariatkan jama' adalah untuk mempermudah dan enghindarkan kesulitan, seperti yang telah dijelaskan oleh riwayat Muslim. Sedangkan jama' dalam pengertian 'shuwari' masih mengandung kesulitan.

    Ketiga : Sebagian hadits tentang jama' jelas menyalahkan pendapat mereka itu. Seperti hadits Anas bin Malik yang berbunyi. "Mengakhirkan Dzuhur sehingga masuk awal Ashar, kemudian dia menjama' (mengumpulkan) keduanya".

    Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim (2/151) dan lainya.

    Keempat : Bahkan pendapat itu juga bertentangan dengan pengertian jama taqdim sebagaimana dijelaskan oleh hadits Mu'adz berikut ini.

    "Dan apabila dia berangkat setelah tergelincir matahari, maka dia akan menyegerakan Ashar kepada Dzuhur".

    Dan sesungguhnya hadits-hadits yang serupa ini adalah banyak, sebagaimana telah disinggung.

    [2]. Sesungguhnya soal jama' (mengumpulkan dua shalat) disamping boleh jama takhir, boleh juga jama taqdim. Ini dikatakan oleh Imam Asy-Syafi'i dalam Al-Um (I/67), disamping oleh Imam Ahmad dan Ishaq, sebagaimana dikatakan oleh At-Tarmidzi (2/441).

    [3]. Sesungguhnya diperbolehkan jama' pada waktu turunnya (dari kendaraan) sebagaimana diperbolehkan manakala berlangsung perjalanan. Imam Syafi'i dalam Al-Um, setelah meriwayatkan hadits ini dari jalur Malik, mengatakan : "Ini menunjukkan bahwa dia sedang turun bukan sedang jalan. Karena kata 'dakhala' dan 'kharaja' (masuk dan keluar) adalah tidak lain bahwa dia sedang turun. Maka bagi seorang musafir boleh menjama' pada saat turun dan pada saat berjalan'.

    Saya berpendapat : Dengan nash ini maka tidaklah perlu menghiraukan kata Ibnul Qayyim rahimahullah dalam Zadul Ma'ad (1/189) menuturkan : "Bukanlah petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam, melakukan jama' sambil naik kendaraan dalam perjalanannya, sebagaimana yang dilakukan oleh kebanyakan orang, dan tidak juga jama' itu harus pada waktu dia turun".

    Nampaknya banyak kaum muslimin yang terkecoh oleh kata-kata Ibnul Qayyim ini. Oleh karenanya mestilah ingat kembali.

    Adalah janggal bila Ibnul Qayyim tidak memahi nash yang ada dalam Al-Muwatha', Shahih Muslim dan lain-lain ini. Akan tetapi keheranan tersebut akan hilang manakala kita ingat bahwa dia menulis kitab Az-Zad itu, adalah pada waktu dimana dia jauh dari kitab-kitab lain, yakni dia dalam perjalanan, sebagai seorang musafir. Inilah sebabnya mengapa dalam kitab tersebut disamping kesalahan itu, banyak juga kesalahan yang lain. Dan mengenai hal ini telah saya jelaskan dalam At-Ta'liqat Al-Jiyad 'Ala Zadil Ma'ad.

    Yang membuat pendapat ini tetap janggal adalah bahwa gurunya, yakni Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, telah menjelaskan dalam sebuah bukunya, berbeda dengan apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim. Mengapa hal itu tidak diketahui oleh Ibnul Qayyim padahal dia orang yang paling mengenal Ibnu Taimiyah dengan segala pendapatnya.? Setelah menuturkan hadits itu, Syaikhul Islam dalam Majmu'atur Rasail wal-Masa'il (2/26-27) mengatakan : "Pengertian jama' itu ada tiga tingkatan : Manakala sambil berjalan maka pada waktu yang pertama.

    Sedangkan bila turun maka pada waktu yang kedua. Inilah jama' sebagaimana disebutkan dalam Ash-Shahihain dari hadits Anas dan Ibnu Umar. Itu menyerupai jama' di Muzdalifah. Adapun manakala di waktu yang kedua baik dengan berjalan maupun dengan kendaraan, maka di-jama' pada waktu yang pertama. Ini menyerupai jama' di Arafah. Sungguh hal ini telah diriwayatkan dalam As-Sunnan (yakni hadits Mu'adz ini). Adapun manakala turun pada waktu keduanya, maka dalam hal ini tidak aku ketahui hadits ini menunjukkan bahwa beliau Nabi turun di kemahnya dalam bepergian itu. Dan bahwa beliau mengakhirkan Dzuhur kemudian keluar lalu shalat Dzuhur dan Ashar sekalian.

    Kemudian beliau masuk ke tempatnya, lalu keluar lagi dan melakukan shalat Maghrib dan Isya' sekalian. Sesungguhnya kala 'ad-dukhul' (masuk) dan 'khuruj' (keluar), hanyalah ada di rumah (kemah saja). Sedangkan orang yang berjalan tidak akan dikatakan masuk atau keluar. Tetapi turun atau naik.

    "Dan Tabuk adalah akhir peperangan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam Beliau sesudah itu, tidak pernah bepergian kecuali ketika haji Wada'. Tidak ada kasus jama' darinya kecuali di Arafah dan Muzdalifah. Adapun di Mina, maka tidak ada seorangpun yang menukil bahwa beliau pernah menjama' di sana.

    Mereka hanya menukilkan bahwa beliau memang mengqashar di sana. Ini menunjukkan bahwa beliau dalam suatu bepergian terkadang menjama' dan terkadang tidak. Bahkan yang lebih sering adalah bahwa beliau tidak men-jama' . Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak menjama'. Dan juga menunjukkan bahwa jama' bukan menjadi sunah Safar sebagaimana qashar, tetapi dilakukan hanya bila diperlukan saja, baik dalam bepergian maupun sewaktu tidak dalam bepergian supaya tidak memberatkan umatnya. Maka seorang musafir bilamana memerlukan jama' maka lakukan saja, baik pada waktu kedua atau pertama, baik ia turun untuknya atau untuk keperluan lain seperti tidur dan istirahat pada waktu Dzuhur dan waktu Isya'. Kemudian dia turun pada waktu Dzuhur dan waktu Isya. Dia turun pada waktu Dzuhur karena lelah dan mengantuk serta lapar sehingga memerlukan istirahat, tidur dan makan. Dia boleh mengakhirkan Dzuhur kepada waktu Ashar kemudian menjama' taqdim Isya dengan Maghrib lalu sesudah itu bisa tidur agar bisa bangun di tengah malam dalam bepergiannya.

    Maka menurut hadits ini dan lainnya adalah diperbolehkan men-jama'. Adapun bagi orang yang singgah beberapa hari di suatu kampong atau kota, maka meskipun ia boleh mengqashar, karena dia musafir, namun tidak diperkenankan men-jama'. Ia seperti halnya tidak boleh shalat di atas kendaraan, tidak boleh shalat dengan tayamum dan tidak boleh makan bangkai.

    Hal-hal seperti ini hanya diperbolehkan sewaktu diperlukan saja. Lain halnya dengan soal qashar. sesungguhnya ia memang menjadi sunnah dalam shalat perjalanan".

    [Disalain dari buku Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah wa Syaiun Min Fiqhiha wa Fawaaidiha, edisi Indonesia Silsilah Hadits Shahih dan Sekelumit Kandungan Hukumnya oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, terbitan Pustaka Mantiq, hal 368-372 penerjemah Drs.HM.Qodirun Nur]

  10. #10
    Join Date
    Oct 2007
    Posts
    23,406
    Post Thanks / Like

    Default

    SHALAT SENDIRIAN DI BELAKANG SHAF

    Tanya :
    Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya : "Bagaimana pendapat yang shahih mengenai orang yang shalat sendirian di belakang imam .?"

    Jawaban :
    Ada beberapa pendapat tentang shalat sendirian di belakang shaf imam :

    [1] Shalatnya sah tetapi menyalahi sunnah, baik shaf yang ada di depannya penuh atau tidak. Inilah yang terkenal dari ketiga imam madzhab ; Malik, Abu Hanifah, dan Al-Syafi'i, dari riwayat Imam Ahmad bin Hanbal. Mereka menafsirkan hadits kepada ketidaksempurnaan, bukan ketidaksahan : "Artinya : Tidak sempurna shalatnya orang sendirian di belakang shaf".

    [2] Shalatnya batal, baik shaf yang di depannya penuh atau tidak. Dasar hukumnya adalah hadits : "Artinya : Tidak sah shalat bagi yang sendirian di belakang imam". Juga hadits yang menerangkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melihat seorang lelaki shalat sendirian di belakang shaf, lalu ia disuruh agar mengulanginya kembali.

    [3] Pendapat moderat ; jika barisan shalat penuh, maka shalat munfarid di belakang imam boleh dan sah. Inilah pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Yakni jika saudara masuk mesjid dan ternyata barisan shalat telah penuh kanan kirinya, maka tidak ada halangan saudara shalat sendirian berdasarkan firman Allah berikut. "Artinya : Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupan" [At-Taghaabun : 16]

    Jika bukan dalam keadaan seperti itu, maka saudara bisa menempuh cara berikut ; menarik seorang makmum dari shaf untuk shalat bersama saudara ; maju ke depan untuk shalat bersama imam ; sendirian tidak berjama'ah ; atau shalat berjama'ah namun sendirian di belakang shaf karena tidak mungkin masuk ke shaf yang di depan. Inilah empat cara yang bisa dilakukan.

    Cara kesatu, yaitu menarik seseorang ke belakang untuk shalat bersama saudara. Cara ini dapat menimbulkan langkah tiga atau terputus dari shaf bahkan bisa memindahkan seseorang dari tempat yang utama ke tempat sebaliknya, mengacaukan dan dapat menggerakkan seluruh shaf karena di sana ada tempat yang kosong yang kemudian diisi oleh masing-masing dengan cara merapatkan hingga timbul gerakan-gerakan yang tanpa sebab syara'.

    Cara kedua, maju ke depan untuk shalat bersama imam. Cara ini menimbulkan beberapa kekhawatiran. Jika saudara maju dan berdiri sejajar dengan imam maka cara ini menyalahi sunnah, sebab imam harus sendirian di tempatnya agar diikuti oleh yang dibelakang dan jangan sampai terjadi dua imam. Dalam hal ini tidak bisa diberi alasan dengan hadits yang menyatakan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memasuki mesjid dan dijumpainya Abu Bakar tengah shalat berjama'ah lalu beliau ikut shalat di sebelah kirinya dan menyempurnakan shalatnya, karena hal seperti itu dalam keadaan darurat, dimana Abu Bakar ketika itu tak punya tempat di shaf belakang. Akibat lainnya, bila saudara maju ke depan imam, maka dikhawatirkan akan banyak melangkahi pundak orang, sesuai dengan banyaknya shaf. Cara ini jelas akan mengganggu orang shalat yang tidak menyenangkan. Di samping itu, jika setiap yang datang kemudian disuruh ke depan jajaran imam, maka tempat imam akan menjadi shaf penuh dan hal ini menyalahi sunnah.

    Sedangkan cara ketiga, yaitu saudara meninggalkan berjama'ah dan shalat sendirian, berarti saudara kehilangan nilai berjama'ah dan nilai barisan shalat. Padahal diketahui bahwa shalat berjama'ah walau sendirian shafnya adalah lebih baik ketimbang sendirian tanpa berjama'ah. Hal ini telah dikuatkan oleh berbagai atsar (keterangan shahabat) dan pandangan yang sehat. Allah sendiri tak akan membebani seseorang kecuali menurut kesanggupannya.

    Maka menurutku pendapat yang terkuat adalah jika shaf shalat telah penuh lalu seseorang shalat di belakang shaf dengan berjama'ah adalah lebih baik dan shalatnya sah.


    [Disalin dari buku Fatawa Syaikh Muhammad Al-Shaleh Al-Utsaimin)

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •